Apakah sesuatu harus berlebihan untuk ada? Tak bisakah senang yang biasa saja, kagum secukupnya, sedih sejujurnya, marah serapuhnya, emosi seperlunya, sewajarnya. Seolah-olah bila tidak dramatis, tidak mentok drama, kehadiran seseorang, kebutuhan seseorang untuk diakui, untuk diterima, menjadi tidak penting. Apakah yang membuat seseorang begitu tinggi, begitu lama, hingga ia lupa turun, lupa caranya, lupa rasanya? Apakah menjadi bukan sakit namanya bila tidak dramatis, tidak puitis? Sakit dengan luka-luka halus, perih-perih lembut, pilu yang diam-diam bersemayam di hati, sungkan untuk dibagi, karena sesuatu yang tanggung begitu, tak cukup komersil untuk jadi komoditi. Seolah-olah empati adalah mata uang, yang wajar dikeluarkan, untuk membeli hiburan. Entah karena apa. Mungkin komparasi: ada yang lebih sengsara. Mungkin pula: sesuatu yang aku tidak tahu persis. Aku merasa sebal saja. Kapan ya terakhir kali aku merasa, hidup itu, biasa saja?

--

--

Baru hari ini aku bisa mengakui, bahwa aku bukan malas. Malas terlalu sederhana, solusinya saja yang rumit. Aku takut, takut itu rumit, tapi solusinya sederhana. Aku tidak pernah dan tidak mungkin malas jika aku berani untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. Takut, itu baik bila bijaksana. Namun aku tidak. Aku…

--

--

Ryandi Pratama

I write to explore my thoughts and dreams. Sometimes it resulted in a fantasy story, poetry, movie idea, lyric, or a rant.